![]() |
| Tim UPI bersama pelaku UMKM Dodol Nanas Tambakmekar usai kegiatan pendampingan standardisasi mutu dan kesiapan ekspor. |
SUBANG – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dodol nanas di Desa Tambakmekar, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, mendapatkan pendampingan mengenai penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) dan pengenalan kesiapan produk menuju pasar ekspor. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui program pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan dosen dan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan UMKM Dodol Nanas Berorientasi Ekspor melalui Standardisasi Mutu dan Penguatan Daya Saing Global” tersebut menggabungkan pendekatan Teknologi Pangan dan Teknik Logistik. Pendampingan diarahkan pada penguatan praktik produksi dan keamanan pangan serta peningkatan pemahaman mengenai profil produk dan proses yang perlu dipersiapkan ketika pelaku usaha ingin memperluas pasar.
Ketua tim pelaksana, Dr. Eng. Puji Rahmawati Nurcahyani dari Program Studi Teknologi Pangan UPI, mengatakan bahwa pengembangan pasar produk pangan perlu diawali dengan penguatan proses produksi di tingkat UMKM.
“Kesiapan menuju pasar yang lebih luas tidak hanya ditentukan oleh produk yang disukai konsumen. Pelaku UMKM juga perlu memastikan proses produksinya konsisten, memperhatikan higiene dan sanitasi, serta mulai membangun kebiasaan dokumentasi dalam kegiatan produksi,” kata Puji.
Dalam kegiatan tersebut, materi GMP diberikan dalam dua bagian. Bagian pertama membahas persyaratan dasar produksi yang meliputi lokasi dan lingkungan produksi, bangunan dan fasilitas, peralatan, serta higiene pekerja dan sanitasi. Bagian berikutnya membahas bahan baku dan bahan pendukung, pengendalian proses, pengemasan, penyimpanan dan distribusi, serta dokumentasi dan tindakan perbaikan.
Pendampingan juga diarahkan pada penyusunan dan penyempurnaan Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi dodol nanas serta checklist GMP operasional. Dokumen tersebut digunakan sebagai perangkat sederhana bagi pelaku usaha untuk membantu menjaga konsistensi kegiatan produksi dan melakukan pemeriksaan rutin terhadap aspek-aspek yang berkaitan dengan praktik produksi yang baik.
Menurut Puji, pengenalan GMP tidak dimaksudkan untuk membuat proses produksi UMKM menjadi rumit. Sebaliknya, prinsip-prinsip tersebut perlu diterjemahkan menjadi kegiatan yang dapat diterapkan dalam aktivitas produksi sehari-hari.
“Yang ingin dibangun bukan sekadar pemahaman mengenai istilah GMP, tetapi bagaimana prinsip tersebut bisa diterjemahkan menjadi kebiasaan kerja. SOP dan checklist menjadi alat sederhana agar pelaku usaha dapat mengetahui apa yang harus diperiksa dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki,” ujarnya.
Kesiapan Ekspor Tidak Hanya Berkaitan dengan Produksi
Selain aspek produksi dan mutu pangan, kegiatan melibatkan bidang Teknik Logistik untuk memberikan perspektif mengenai kesiapan produk ketika memasuki jaringan pemasaran dan distribusi yang lebih luas.
Hanissa Okitasari, S.T., M.Sc., anggota tim dari Program Studi Teknik Logistik UPI, memberikan materi mengenai profil produk ekspor dan aspek logistik yang perlu dipahami oleh pelaku UMKM.
“Bagi UMKM, kesiapan ekspor tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk. Pelaku usaha juga perlu memahami karakteristik produk yang akan dipasarkan, kebutuhan distribusi, dokumen yang diperlukan, serta bagaimana produk tersebut bergerak melalui rantai pasok sampai kepada konsumen,” kata Hanissa.
Pendekatan tersebut digunakan untuk memberikan gambaran kepada pelaku usaha bahwa ekspor merupakan proses yang melibatkan sejumlah tahapan. Karena itu, kegiatan tidak menempatkan ekspor sebagai hasil yang dapat dicapai secara instan, tetapi sebagai peluang yang perlu dipersiapkan secara bertahap sesuai dengan kapasitas UMKM.
Untuk mengetahui perkembangan pemahaman peserta, tim pelaksana menggunakan pre-test dan post-test yang mencakup materi GMP serta profil produk ekspor. Hasil evaluasi digunakan untuk melihat perubahan pemahaman peserta sekaligus mengidentifikasi aspek yang masih memerlukan pendampingan.
Berangkat dari Potensi Nanas Lokal
Pemilihan dodol nanas sebagai fokus kegiatan berkaitan dengan keberadaan nanas sebagai komoditas yang banyak diolah di Kabupaten Subang. Pengolahan menjadi dodol memberikan alternatif pemanfaatan nanas sekaligus menghasilkan produk dengan nilai tambah dibandingkan pemasaran buah dalam bentuk segar.
Bagi pelaku UMKM, upaya memperluas pasar juga membawa kebutuhan untuk memperbaiki proses secara bertahap. Mulai dari konsistensi bahan baku dan proses produksi, kebersihan fasilitas dan pekerja, pengemasan, pencatatan, hingga kesiapan menghadapi distribusi yang lebih panjang.
Pihak mitra menilai pendampingan dapat membantu pelaku usaha melihat kembali praktik yang selama ini telah dijalankan dan bagian yang masih dapat diperbaiki.
“Selama ini produksi sudah berjalan, tetapi melalui kegiatan ini kami dapat melihat kembali hal-hal yang perlu diperhatikan, terutama terkait kebersihan, proses produksi, pencatatan, dan apa saja yang perlu dipersiapkan apabila produk ingin dipasarkan lebih luas,” ujar Dedi Ruhendi, Kepala Desa Tambakmekar.
Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan dalam observasi kondisi produksi, dokumentasi kegiatan, pendampingan penggunaan checklist, serta pengumpulan data untuk evaluasi. Tim pelaksana berharap SOP dan checklist yang diperkenalkan tidak hanya digunakan selama kegiatan berlangsung. Dokumen tersebut diharapkan dapat terus disesuaikan dengan kondisi produksi dan digunakan sebagai perangkat evaluasi internal oleh pelaku usaha.
Program pendampingan juga tidak menyatakan bahwa produk dodol nanas yang menjadi mitra telah memenuhi seluruh persyaratan ekspor atau telah memperoleh sertifikasi tertentu. Kegiatan difokuskan pada peningkatan pemahaman, pembenahan praktik produksi, dan pengenalan tahapan kesiapan ekspor sebagai bagian dari proses pengembangan UMKM secara bertahap.

0Komentar