![]() |
| Dari proses sederhana, lahir pengalaman bermakna. Mahasiswa KKN UNDIP bersama masyarakat Desa Kwasen dalam pelatihan pembuatan hand sanitizer berbasis lidah buaya. |
Kwasen, 26 Juli 2026 — Kebersihan tangan menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kebersihan diri dan menerapkan pola hidup bersih. Di tengah kebutuhan akan produk kebersihan yang praktis, pemanfaatan bahan sederhana yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengenalkan masyarakat pada proses pembuatan produk yang memiliki nilai guna.
Berangkat dari hal tersebut, mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro di Desa Kwasen melaksanakan Program Sosial Masyarakat berupa “Pelatihan Pembuatan Hand Sanitizer Berbasis Lidah Buaya sebagai Upaya Pemanfaatan Bahan Sederhana Menjadi Produk yang Bernilai Guna” pada Minggu, 26 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian yang menggabungkan pengetahuan bidang kimia dengan kebutuhan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pelatihan ini memperkenalkan pemanfaatan gel lidah buaya sebagai salah satu bahan dalam pembuatan hand sanitizer. Lidah buaya dipilih karena merupakan bahan yang relatif mudah ditemukan dan dikenal luas oleh masyarakat. Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada hasil akhir berupa hand sanitizer, tetapi juga diajak memahami bagaimana bahan-bahan sederhana dapat dipadukan melalui proses yang terukur hingga menghasilkan suatu produk.
Dalam pelaksanaannya, bahan yang digunakan terdiri atas alkohol 70%, gel lidah buaya, dan essential oil peppermint. Sementara itu, alat yang digunakan meliputi teko ukur berukuran 250 mL, saringan, serta botol fliptop berukuran 100 mL. Setiap bahan memiliki perannya masing-masing dalam proses pembuatan sehingga diperlukan ketelitian dalam menyiapkan dan mencampurkannya.
Proses pembuatan diawali dengan memastikan seluruh alat yang digunakan berada dalam keadaan bersih. Sebanyak 24 mL gel lidah buaya kemudian dimasukkan ke dalam teko ukur. Setelah itu, ditambahkan 75 mL alkohol 70% dan 1 mL essential oil peppermint atau sekitar 20 tetes. Seluruh bahan kemudian diaduk secara perlahan hingga tercampur secara merata. Setelah campuran siap, produk dimasukkan ke dalam botol fliptop berukuran 100 mL dan ditutup dengan rapat.
Selain melakukan praktik pembuatan, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengenalkan prinsip sederhana dalam pencampuran bahan. Peserta dapat melihat secara langsung bagaimana suatu produk dapat dibuat melalui tahapan yang sistematis, mulai dari persiapan bahan, pengukuran, pencampuran, hingga pengemasan. Hal tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman yang lebih nyata dibandingkan hanya memperoleh informasi secara teori.
Untuk mendukung penyampaian materi, kegiatan dilengkapi dengan media poster yang memuat informasi mengenai alasan penggunaan hand sanitizer, bahan dan alat yang diperlukan, langkah-langkah pembuatan, cara penggunaan, serta beberapa hal yang perlu diperhatikan. Poster tersebut dirancang agar informasi dapat dipahami dengan lebih mudah sekaligus menjadi panduan sederhana yang dapat dilihat kembali setelah kegiatan berlangsung.
Kegiatan ini juga menjadi bentuk penerapan pengetahuan yang diperoleh melalui bidang ilmu Kimia dalam kehidupan masyarakat. Ilmu kimia tidak hanya berkaitan dengan kegiatan di laboratorium, tetapi juga dapat diterapkan untuk memahami bahan, proses pencampuran, takaran, hingga menghasilkan produk yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari. Melalui pelatihan ini, pengetahuan tersebut dikemas dalam bentuk kegiatan yang sederhana dan mudah dipahami.
Program ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan tangan dan penerapan perilaku hidup bersih. Kebiasaan menjaga kebersihan diri merupakan salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya kegiatan edukasi dan praktik secara langsung, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga kebersihan sekaligus memiliki pengetahuan tambahan mengenai pembuatan produk kebersihan.
Di sisi lain, kegiatan ini juga memberikan perspektif bahwa bahan yang sederhana dapat memiliki manfaat apabila dimanfaatkan dengan tepat. Lidah buaya yang selama ini lebih dikenal sebagai tanaman yang memiliki beragam pemanfaatan dapat diperkenalkan dalam konteks yang berbeda melalui kegiatan pembuatan produk. Hal ini menjadi salah satu upaya untuk menumbuhkan kreativitas masyarakat dalam melihat potensi bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Pelaksanaan program sosial masyarakat ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan saja. Pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi pengalaman tambahan bagi masyarakat untuk lebih mengenal proses pembuatan suatu produk, memahami pentingnya ketelitian dalam penggunaan bahan, serta melihat peluang pemanfaatan bahan sederhana secara lebih kreatif.
Melalui kegiatan “Pelatihan Pembuatan Hand Sanitizer Berbasis Lidah Buaya”, mahasiswa KKN UNDIP berupaya menghadirkan pengetahuan yang sederhana, aplikatif, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari sebuah bahan yang mudah ditemukan, lahir sebuah proses pembelajaran yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan sehari-hari.
Dari lidah buaya menjadi hand sanitizer, dari bahan sederhana menjadi pembelajaran, dan dari pengetahuan menjadi langkah kecil untuk membangun kebiasaan hidup yang lebih bersih.

0Komentar