TSYlTpM9TpC6GUzpGSzoBUAoTY==
 Keren! Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya Sulap Limbah Kain Jadi “Mutiara” Bernilai Tinggi

Keren! Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya Sulap Limbah Kain Jadi “Mutiara” Bernilai Tinggi

Daftar Isi
×

Dokumentasi pribadi : Praba Nilotama bersama eksplorasi tekstil dan desain koleksi

Idealita News, Surabaya
- Di tengah industri fashion yang serba cepat dan cenderung konsumtif, karya mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya ini justru menawarkan pendekatan berbeda: reflektif, eksperimental, sekaligus berkelanjutan.

Adalah Praba Nilotama yang menghadirkan koleksi tekstil bertajuk Blooming Oyster. Karya ini tidak hanya menonjolkan aspek visual, tetapi juga mengangkat narasi tentang proses, tekanan, dan transformasi menjadi sesuatu yang bernilai.

Inspirasi koleksi ini datang dari proses terbentuknya mutiara di dalam tiram. Secara biologis, mutiara terbentuk ketika benda asing masuk ke dalam cangkang, lalu dilapisi secara berulang dengan nacre hingga akhirnya menjadi sesuatu yang berharga.

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan Praba melalui eksplorasi tekstil berbasis limbah kain. Material sisa produksi diolah menggunakan berbagai teknik, seperti marbling dengan metode suminagashi, bordir tangan (hand embroidery), quilting untuk menciptakan dimensi, serta aplikasi benang (cording) yang membentuk garis organik menyerupai pertumbuhan alami.

Tak hanya itu, elemen mutiara juga ditambahkan sebagai aksen utama untuk memperkuat konsep transformasi. Hasil akhirnya bukan sekadar kain daur ulang, melainkan material baru dengan karakter visual yang kompleks, memadukan pola cair khas marbling dengan tekstur timbul dan detail yang kaya.

“Saya melihat kain bekas seperti benda asing dalam kehidupan tiram. Awalnya dianggap mengganggu, tapi melalui proses yang tepat justru bisa melahirkan sesuatu yang bernilai. Di situ saya melihat paralel dengan pengalaman manusia,” ujar Praba.

 

Dokumentasi pribadi : Transformasi limbah kain menjadi “mutiara” melalui teknik suminagashi dan manipulasi tekstil

Secara visual, koleksi Blooming Oyster menampilkan tekstil dengan permukaan organik dan dinamis. Garis-garis dari teknik cording membentuk pola menyerupai struktur alami, sementara komposisi mutiara tersebar seperti pertumbuhan spontan. Hal ini menghadirkan dialog antara ketidakteraturan alami dan kontrol desain.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap standar estetika dalam industri fashion yang kerap terpaku pada kesempurnaan. Sebaliknya, karya ini mengangkat nilai dari proses, ketidaksempurnaan, dan rekonstruksi.

Salah satu dosen pembimbing, Christina Tanujaya, menilai kekuatan karya ini terletak pada konsistensi antara konsep dan eksekusi material.

“Yang menarik dari karya Praba adalah kemampuannya menghubungkan konsep dengan eksplorasi material secara utuh. Tidak berhenti pada ide, tetapi benar-benar diwujudkan melalui eksperimen tekstil yang intens,” jelasnya.

Sementara itu, dosen lainnya, Fabio Ricardo Toreh, menilai karya ini relevan dengan kebutuhan industri saat ini yang menuntut desainer tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap dampak lingkungan.

“Blooming Oyster menunjukkan bahwa eksplorasi estetika bisa berjalan beriringan dengan tanggung jawab ekologis,” katanya.

Aspek keberlanjutan memang menjadi bagian penting dalam karya ini. Penggunaan limbah kain tidak hanya sebagai bahan, tetapi juga sebagai bentuk respons terhadap isu lingkungan dalam industri fashion.

Bagi Praba, koleksi ini juga merupakan refleksi personal. Setiap lapisan, jahitan, dan perubahan pada tekstil merepresentasikan perjalanan bahwa sesuatu yang dianggap tidak sempurna tetap bisa diolah menjadi bermakna.

“Saya ingin orang melihat bahwa keindahan tidak pernah instan. Ada proses, tekanan, dan perubahan. Justru di situlah nilai sebenarnya muncul,” tambahnya.

Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap slow fashion, karya Blooming Oyster menjadi bukti bahwa desain dapat menjembatani seni, sains, dan refleksi sosial.

Dari selembar kain yang pernah dianggap tak bernilai, lahirlah sebuah “mutiara” baru yang sarat makna.

0Komentar

Special Ads
Special Ads
Special Ads