
Lombok, sebuah pulau yang sering diidentikkan dengan keindahan alamnya seperti pantai-pantai yang mempesona, air terjun yang menyejukkan, dan Gunung Rinjani yang megah. Namun, selain itu, Lombok juga memiliki sisi budaya yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal. Salah satu contohnya adalah Desa Adat Segenter Lombok, sebuah desa yang menjadi salah satu pusat kebudayaan Suku Sasak yang masih mempertahankan adat dan tradisi turun-temurun. Desa ini tidak hanya menjadi tempat tinggal bagi masyarakat setempat, tetapi juga menjadi destinasi wisata budaya yang menarik untuk dikunjungi.
Desa Adat Segenter Lombok berada di wilayah Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Meskipun terletak jauh dari pusat kota, desa ini mudah diakses melalui jalur pantai barat Lombok. Dari Mataram, ibu kota provinsi Nusa Tenggara Barat, perjalanan ke desa ini membutuhkan sekitar 2,5 jam menggunakan kendaraan pribadi. Selain itu, desa ini juga dekat dengan beberapa objek wisata lain seperti Desa Bayan dan Pura Batu Bolong, menjadikannya sebagai bagian dari paket wisata budaya yang lengkap.
Desa Adat Segenter memiliki keunikan tersendiri dalam hal struktur bangunan, cara hidup penduduk, serta nilai-nilai kearifan lokal yang masih terjaga. Dengan luas sekitar 3 hektar, desa ini dikelilingi oleh pagar dan hanya memiliki satu pintu masuk. Di dalamnya, terdapat ratusan rumah tradisional yang dibangun dari bahan alami seperti bambu, jerami, dan tanah liat. Setiap rumah memiliki desain yang sama, dengan lantai dari tanah liat yang dilapisi kotoran sapi untuk menjaga kebersihan dan ketahanan material. Desa ini juga memiliki tata ruang yang rapi, dengan deretan rumah yang mengelilingi area beruga atau tempat untuk menerima tamu.
Sejarah dan Keunikan Desa Adat Segenter
Desa Adat Segenter Lombok merupakan salah satu desa adat tertua yang ada di Lombok. Menurut informasi dari penduduk setempat, desa ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan masih dipertahankan oleh suku Sasak asli yang tinggal di sana. Keberadaan desa ini sangat penting dalam menjaga kelestarian budaya Suku Sasak, yang merupakan komunitas etnis utama di Lombok. Budaya mereka memiliki ciri khas yang berbeda dari budaya Bali dan Jawa, meskipun pengaruh dari kedua budaya tersebut juga bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Salah satu ciri khas dari Desa Adat Segenter adalah bentuk bangunan rumah tradisional yang masih menggunakan bahan-bahan alami. Rumah-rumah di sini dibangun dengan dinding dari anyaman bambu, atap dari ilalang, dan lantai dari tanah liat. Untuk meningkatkan daya tahan lantai, warga setempat rutin memoleskannya dengan campuran kotoran sapi, sehingga lantai tetap licin dan awet. Proses perawatan ini menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan yang ingin melihat cara hidup masyarakat adat yang masih memegang prinsip kesederhanaan dan keberlanjutan.
Selain itu, Desa Segenter juga memiliki sistem sosial yang kuat, di mana hubungan antar keluarga sangat erat. Setiap rumah memiliki area khusus yang disebut "Inan Belek", yang biasanya digunakan untuk keperluan khusus seperti tempat tidur pengantin baru. Ruangan ini juga bisa berfungsi sebagai ganti lumbung jika sebuah rumah tidak memiliki lumbung. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat desa ini telah menciptakan sistem yang sesuai dengan kebutuhan mereka secara mandiri.
Aktivitas Masyarakat dan Penghasilan Lokal
Penduduk Desa Adat Segenter Lombok sebagian besar bekerja sebagai petani dan pembuat kerajinan. Aktivitas pertanian mereka dilakukan secara tradisional, dengan tanaman utama seperti padi, jagung, dan sayuran. Selain itu, banyak warga yang juga melakukan usaha kerajinan anyaman dari bambu, yang menjadi produk lokal yang diminati oleh wisatawan. Kerajinan ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga menjadi simbol kearifan lokal yang terus dilestarikan.
Kehidupan di Desa Segenter terasa tenang karena aktivitas penduduknya cenderung sederhana. Pagi hingga siang hari, desa ini terlihat sepi karena mayoritas warga sedang bekerja di sawah atau membuat kerajinan. Namun, suasana ini justru memberikan nuansa yang khas dan membuat desa ini terasa lebih autentik. Wisatawan yang berkunjung ke sini bisa merasakan kehidupan masyarakat adat yang masih memegang prinsip keharmonisan dengan alam.
Selain itu, Desa Segenter juga menjadi tempat yang cocok untuk belajar tentang tradisi dan adat istiadat Suku Sasak. Banyak wisatawan yang datang tidak hanya untuk melihat keindahan alam, tetapi juga untuk memahami cara hidup masyarakat setempat. Dalam kunjungan ini, mereka bisa mengikuti prosesi upacara adat, mempelajari seni musik dan tari-tarian khas, serta melihat langsung cara pembuatan kerajinan tradisional.
Rute dan Akses ke Desa Adat Segenter
Untuk menuju Desa Adat Segenter Lombok, wisatawan dapat mengambil rute dari kota Mataram. Jalur yang paling umum adalah melalui Pantai Barat Lombok, yaitu dengan melewati kota Senggigi, Pemenang, Tanjung, dan Selengen. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 2,5 jam, tergantung kondisi lalu lintas dan cuaca. Bagi yang ingin lebih nyaman, transportasi umum seperti angkot atau sewa mobil juga bisa menjadi pilihan.
Desa Segenter terletak tidak jauh dari Desa Bayan, yang juga merupakan salah satu desa adat yang terkenal. Dengan lokasi yang strategis, desa ini bisa menjadi bagian dari paket wisata budaya yang mencakup beberapa desa adat di Lombok. Wisatawan juga bisa menggabungkan kunjungan ke Desa Segenter dengan destinasi lain seperti Desa Sade, Pura Batu Bolong, atau Pantai Selong Belanak.
Namun, perlu diingat bahwa akses ke desa ini tidak sepenuhnya mudah. Jalan-jalan yang menghubungkan desa dengan kota-kota besar masih tergolong sempit dan kurang terawat. Oleh karena itu, wisatawan disarankan untuk membawa kendaraan pribadi atau menyewa mobil agar lebih fleksibel dalam perjalanan.
Struktur dan Desain Rumah Tradisional
Desa Adat Segenter Lombok memiliki struktur pemukiman yang unik dan teratur. Semua rumah disusun dalam pola yang rapi, dengan lantai dari tanah liat yang dilapisi kotoran sapi untuk menjaga kebersihan dan ketahanan. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu, sedangkan atapnya terbuat dari ilalang atau daun palma. Desain rumah ini sangat sederhana namun efisien, dengan ukuran sekitar 6×7 meter dan bentuk persegi panjang.
Setiap rumah memiliki area khusus yang disebut "Inan Belek", yang biasanya digunakan untuk tempat tidur pengantin baru. Ruangan ini juga bisa berfungsi sebagai ganti lumbung jika sebuah rumah tidak memiliki lumbung. Selain itu, di tengah-tengah desa terdapat area yang disebut "Berugak", yaitu tempat untuk menerima tamu. Area ini biasanya dikelilingi oleh deretan rumah dan menjadi titik kumpul masyarakat setempat.
Rumah-rumah di Desa Segenter juga memiliki pagar yang terbuat dari batu, yang mengelilingi seluruh areal pemukiman. Pintu masuk hanya satu, sehingga memastikan keamanan dan menjaga privasi masyarakat. Struktur ini mencerminkan kehidupan masyarakat adat yang masih memegang prinsip kebersamaan dan keharmonisan dengan alam.
Perawatan dan Daya Tahan Bangunan
Meskipun terlihat sederhana, bangunan di Desa Adat Segenter Lombok memiliki daya tahan yang cukup baik. Material yang digunakan untuk membangun rumah terdiri dari bahan-bahan alami yang telah terbukti tahan terhadap cuaca dan iklim tropis. Atap rumah, misalnya, diganti setiap 12 hingga 13 tahun sekali, sementara lantai dirawat dengan cara alami seperti penambahan kotoran sapi untuk menjaga kebersihan dan ketahanan.
Perawatan bangunan ini dilakukan secara mandiri oleh masyarakat setempat, tanpa bantuan teknologi modern. Proses ini menjadi bukti bahwa masyarakat adat di Lombok masih memegang prinsip keberlanjutan dan penggunaan sumber daya alam secara bijak. Hal ini juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin melihat cara hidup masyarakat yang masih mempertahankan tradisi dan kearifan lokal.
Selain itu, masyarakat Desa Segenter juga memperhatikan kebersihan lingkungan. Sampah-sampah organik seperti daun dan ranting digunakan kembali sebagai bahan bakar atau bahan baku kerajinan. Sedangkan sampah non-organik diolah secara sederhana agar tidak merusak lingkungan sekitar. Praktik ini menunjukkan bahwa masyarakat desa ini telah menciptakan sistem lingkungan yang ramah dan berkelanjutan.
Fakta Menarik Tentang Desa Adat Segenter
Desa Adat Segenter Lombok memiliki sejumlah fakta menarik yang menjadikannya sebagai salah satu desa adat yang patut dikunjungi. Pertama, desa ini merupakan salah satu dari dua desa adat khas Sasak yang dijadikan sebagai desa wisata budaya oleh pemerintah Lombok. Kedua, desa ini memiliki luas sekitar 3 hektar dan hanya memiliki satu pintu masuk. Ketiga, jumlah keluarga yang tinggal di desa ini mencapai 101 keluarga dengan total 81 rumah.
Keempat, semua rumah di desa ini dibangun dari bahan alami seperti bambu, jerami, dan tanah liat. Kelima, desa ini memiliki area khusus yang disebut Berugak, yang digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu. Keenam, masyarakat desa ini masih mempertahankan tradisi dan adat yang diwariskan secara turun-temurun. Ketujuh, desa ini menjadi tempat yang cocok untuk belajar tentang kehidupan masyarakat adat dan kearifan lokal.
Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa Desa Adat Segenter Lombok tidak hanya menjadi tempat tinggal bagi masyarakat setempat, tetapi juga menjadi sumber informasi dan edukasi bagi wisatawan yang ingin memahami kehidupan masyarakat adat di Lombok. Dengan keunikan dan kearifan lokal yang masih terjaga, desa ini menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang menarik untuk dikunjungi.
Kesimpulan
Desa Adat Segenter Lombok adalah salah satu contoh keberhasilan pelestarian budaya dan adat istiadat oleh masyarakat setempat. Dengan struktur bangunan yang sederhana namun kokoh, aktivitas masyarakat yang masih berbasis pada pertanian dan kerajinan, serta sistem sosial yang kuat, desa ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih bisa bertahan di tengah arus modernisasi. Kunjungan ke desa ini tidak hanya memberikan pengalaman yang berbeda, tetapi juga memberikan wawasan tentang kehidupan masyarakat adat yang masih memegang prinsip keharmonisan dengan alam.
Bagi wisatawan yang ingin merasakan kehidupan masyarakat adat yang autentik, Desa Segenter Lombok adalah pilihan yang tepat. Dengan lokasi yang relatif mudah diakses dan atraksi budaya yang menarik, desa ini menjadi salah satu destinasi wisata yang tidak boleh dilewatkan. Melalui kunjungan ini, wisatawan tidak hanya mendapatkan pengalaman yang berharga, tetapi juga dapat berkontribusi dalam melestarikan kearifan lokal yang semakin langka di era globalisasi saat ini.
0Komentar